Aku terdiam, membiarkan ombak berderu keras di hadapanku. Aku berfikir, bukankah sudah saatnya bagiku untuk mencari tempat baru? Sebentar lagi, setahun lagi.
Aku menatap matahariku, apa ketika aku berpindah, matahari akan tetap menyinariku? Aku sehelai rumput yang menatap dunia sebagai padangku. Apa aku punya cita-cita? Tentu punya. Kau kira aku akan membiarkanku terbawa angin begitu saja? Tentu tidak.
Aku bermimpi mendatangi segala penjuru di padang rumputku. Apa aku melampaui kedudukanku di dunia ini... Tapi kurasa semua orang berhak menggenggam mimpinya. Bahkan untuk rumput sepertiku.
"Pasti, nanti kita akan bertemu di tempat yang lebih baik. Aku akan berusaha menggapaimu, menggapai angin yang membawaku, bahkan menggapai padang rumput di sekelilingku," begitu mudah janjiku terucap.
Orang yang berusaha menuangkan segala argumentasinya ke dalam rangkaian kata, semoga saja dapat membuktikan bahwa bahasa indonesia itu indah.
Saturday, September 29, 2012
It's My Dandelion
Sebuah sosok menangkap pandanganku. Begitu lembut dan menggembung, begitu di benakku. Aku menatapnya dalam-dalam, dan perlahan tersenyum. Lucunya, siapapun bisa berfikiran sama denganku.
Aku terdiam, dia juga terdiam. Kepalanya mungilnya terjulur ke atas menatapku dalam-dalam. Ku tolehkan kepalaku ke kiri dan kanan, tak ada siapapun yang merawatnya...
Suaranya nyaring terdengar menggema di telingaku. Aku tersenyum gelik, dan mengayunkan pengisi perutnya. Dia meloncat kegirangan dan menyikat habis sebelum mahluk mungil lainnya melihat.
Sejak itu dia terus mengikutiku... Menemaniku di padang rumput yang begitu luas. Belayan tanganku mengelus kepala mungilnya. Begitu lembut... Dia baringkan tubuhnya di sisi kakiku. Kami berdua terlelap bersama. Menikmati waktu yang mengelus kami lembut, dan melelapkan kami tertidur begitu nyenyak di padang rumput.
Terlalu lama, sampai roda waktu menggilas kami. Kami merintih, tanpa sadar genggaman kami terpisah. Oh, tidak!
Terlalu lama, sampai roda waktu menggilas kami. Kami merintih, tanpa sadar genggaman kami terpisah. Oh, tidak!
Aku hanya bisa terduduk lemas di padang rumput luas seorang diri. Menatap angin yang terus membawanya pergi. Tapi tanpa kusadari, dia sama sekali tidak meninggalkanku. Benihnya mengisi penuh padang rumputku yang hampa. Aku tersenyum dan menahan tangisku, iya, dia adalah dandelionku.
sumber gambar : http://images.fineartamerica.com/images-medium/double-dandelion-dennis-vebert.jpg
sumber gambar : http://images.fineartamerica.com/images-medium/double-dandelion-dennis-vebert.jpg
Gerhana 1
"Satu minggu?!" aku terhenyak begitu mendengar dua kata itu.
Satu minggu, tujuh hari, tujuh puluh dua jam, empat tiga ratus ribu dua puluh menit, dua ratus lima puluh sembilan ribu dua ratus detik, terserah kau ingin menganggapnya berapa lama. Tapi satu minggu? Apabisa aku, sehelai rumput yang rentan bisa bertahan tanpa matahariku.
Aku tarik nafas dalam-dalam... Aku bisa. Aku bisa.
....
Kutarik ucapanku! Aku tak bisa. Bagaimana aku bisa bertahan saat angin menerpaku. Atau saat hujam menimpaku tanpa lelah. Aku sendiri. DI tengah padang rumput ini, aku sendiri.
Aku terkulai lemas di atas tanah. Sehelai rumput tanpa semangat dan teman... Begitu layu.
Dunia tak mengenal kasih sayang, dunia tak mengenal berhenti. Angin terus menerpa wajahku yang sayu. Selayaknya rumput, aku hanya bisa menari tertiup angin. Tak bisa berkata tidak...
"Yuri?" aku terhenyak.
Bimbang antara kenyataan atau mimpi, aku menoleh.
Kebekuan hariku mencair. Dia di sana... Dia ada di hadapanku. Senyuman itu... Raut wajah itu. Aku melambung, dan membiarkan diriku melambai tertiup angin. Akhirnya... Dia di sana. Hangat, ya, begitu hangat... Sebuah sabuk hitam terikat di pinggangnya.
Apa karena itu kau meninggalkan sehelai rumput sebatang kara? Yasudah, tak kupikirkan kembali. Karena aku tau... Gerhana telah berlalu.
Satu minggu, tujuh hari, tujuh puluh dua jam, empat tiga ratus ribu dua puluh menit, dua ratus lima puluh sembilan ribu dua ratus detik, terserah kau ingin menganggapnya berapa lama. Tapi satu minggu? Apabisa aku, sehelai rumput yang rentan bisa bertahan tanpa matahariku.
Aku tarik nafas dalam-dalam... Aku bisa. Aku bisa.
....
Kutarik ucapanku! Aku tak bisa. Bagaimana aku bisa bertahan saat angin menerpaku. Atau saat hujam menimpaku tanpa lelah. Aku sendiri. DI tengah padang rumput ini, aku sendiri.
Aku terkulai lemas di atas tanah. Sehelai rumput tanpa semangat dan teman... Begitu layu.
Dunia tak mengenal kasih sayang, dunia tak mengenal berhenti. Angin terus menerpa wajahku yang sayu. Selayaknya rumput, aku hanya bisa menari tertiup angin. Tak bisa berkata tidak...
"Yuri?" aku terhenyak.
Bimbang antara kenyataan atau mimpi, aku menoleh.
Kebekuan hariku mencair. Dia di sana... Dia ada di hadapanku. Senyuman itu... Raut wajah itu. Aku melambung, dan membiarkan diriku melambai tertiup angin. Akhirnya... Dia di sana. Hangat, ya, begitu hangat... Sebuah sabuk hitam terikat di pinggangnya.
Apa karena itu kau meninggalkan sehelai rumput sebatang kara? Yasudah, tak kupikirkan kembali. Karena aku tau... Gerhana telah berlalu.
Matahari 2
Pagi ini cerah. Itu yang ingin kukatan setiap hari. Aku tak suka apabila segumpal awan menutupinya. Tidak, mana aku mau kau menutupinya? Dasar bodoh, aku melamun lagi sambil memandanginya. Sang matahari yang selalu membuatku terpukau dengan cahayanya. Sudah berapa kali aku melakukannya dalam satu hari? Orang akan tau, dasar bodoh! Kebiasaan burukku keluar kembali. Berapa kali aku berbaikan dengan diriku sendiri? Sudahlah.
Tanpa kusadari sepasang mata sudah mengamatiku. Dia bagaikan kabut bagiku. Perlahan mendekat, lalu menyebar, dan membiaskan cahaya matahariku begitu saja. Aku tau aku hanya sehelai rumput. Aku tau posisiku.
"Bisa berhenti menatapnya?" seperti itu pesan yang diantarkan kilatan matanya. Kabut itu menatapku, sehelai rumput tajam-tajam. Tapi apa peduliku? Matahari tak akan tertutup kabut selamanya. Sebagai sehelai rumput, aku tau itu.
Nasib berkata baik padaku. Angin perlahan berhembus menitup kabut. Perlahan menipis, memudar, dan lenyap begitu saja. Aku tersenyum puas, matahari kesayanganku dapat kupadang kembali.
"Yuri, sudah mengerjakan tugas bahasa indonesia?" tanya sang Matahari.
Kugelengkan kepalaku pelan. Ah, senyum itu lagi...
"Ayo kita kerjakan bersama..."
Bagaikan uluran tangan yang hangat, aku menggapainya. Menggenggamnya erat-erat... Hangat... Sangat hangat.
Tanpa kusadari sepasang mata sudah mengamatiku. Dia bagaikan kabut bagiku. Perlahan mendekat, lalu menyebar, dan membiaskan cahaya matahariku begitu saja. Aku tau aku hanya sehelai rumput. Aku tau posisiku.
"Bisa berhenti menatapnya?" seperti itu pesan yang diantarkan kilatan matanya. Kabut itu menatapku, sehelai rumput tajam-tajam. Tapi apa peduliku? Matahari tak akan tertutup kabut selamanya. Sebagai sehelai rumput, aku tau itu.
Nasib berkata baik padaku. Angin perlahan berhembus menitup kabut. Perlahan menipis, memudar, dan lenyap begitu saja. Aku tersenyum puas, matahari kesayanganku dapat kupadang kembali.
"Yuri, sudah mengerjakan tugas bahasa indonesia?" tanya sang Matahari.
Kugelengkan kepalaku pelan. Ah, senyum itu lagi...
"Ayo kita kerjakan bersama..."
Bagaikan uluran tangan yang hangat, aku menggapainya. Menggenggamnya erat-erat... Hangat... Sangat hangat.
Matahari 1
Menatap saja tak berani, apalagi mengucap namanya. Terasa seperti terikat rantai di sekujur tubuh. Bukannya tak mau bicara, semua kataku sudah terbendung di ujung lidah. Membuatku menjerit di dalam benakku. Pengecut! Tak henti kuumpat diriku sendiri. Seperti matahari yang tertutup awan, dia menyelimuti segala sinarnya dengan bayangan. Sangat jauh dari pandanganku. Hilang... Ya, aku merasa hilang di balik kegelapannya.
Bukannya mendekat, malah kujauhi sejauh mungkin matahari itu. Itu kesalahanku. Dia hanya menatapku sebagai satu dari ribuan rumput yang tertiup angin. Saat tenggelam, bayangannya akan kukejar. Tapi tak tergapai seujung rambutpun.
"Yuri?"
Satu ucapan nama menghentakan fikiranku. Buyar, enyah, menghilang begitu saja. Tanpa melirik aku sudah tau siapa itu. Sosok matahari yang kukenal. Badannya menjulang tinggi, sebuah sabuk merah-hitam terikat di pinggangnya. Iya, dialah orangnya. Sang matahari yang kukenal.
Nafasku sempat tertahan beberapa saat sebelum akhirnya aku mendapatkan kembali suaraku yang hilang, "Iya?" hanya kata itu yang bisa kau ucapkan? Kuumpat sekali lagi diriku sendiri.
"Ayo latihan lagi. Dari tadi kau hanya melamun..."
Itu dia, senyum yang begitu manis kulihat. Begitu hangat... Kuanggukan kepalaku dengan cepat. Begitu leganya awan itu pergi. Membuat ku, rumput yang tak berarti tersinari cahayanya. Begitu hangat...
Subscribe to:
Posts (Atom)

