Saturday, September 29, 2012

Matahari 2

Pagi ini cerah. Itu yang ingin kukatan setiap hari. Aku tak suka apabila segumpal awan menutupinya. Tidak, mana aku mau kau menutupinya? Dasar bodoh, aku melamun lagi sambil memandanginya. Sang matahari yang selalu membuatku terpukau dengan cahayanya. Sudah berapa kali aku melakukannya dalam satu hari? Orang akan tau, dasar bodoh! Kebiasaan burukku keluar kembali. Berapa kali aku berbaikan dengan diriku sendiri? Sudahlah.

Tanpa kusadari sepasang mata sudah mengamatiku. Dia bagaikan kabut bagiku. Perlahan mendekat, lalu menyebar, dan membiaskan cahaya matahariku begitu saja. Aku tau aku hanya sehelai rumput. Aku tau posisiku.

"Bisa berhenti menatapnya?" seperti itu pesan yang diantarkan kilatan matanya. Kabut itu menatapku, sehelai rumput tajam-tajam. Tapi apa peduliku? Matahari tak akan tertutup kabut selamanya. Sebagai sehelai rumput, aku tau itu.

Nasib berkata baik padaku. Angin perlahan berhembus menitup kabut. Perlahan menipis, memudar, dan lenyap begitu saja. Aku tersenyum puas, matahari kesayanganku dapat kupadang kembali.

"Yuri, sudah mengerjakan tugas bahasa indonesia?" tanya sang Matahari.

Kugelengkan kepalaku pelan. Ah, senyum itu lagi...

"Ayo kita kerjakan bersama..."

Bagaikan uluran tangan yang hangat, aku menggapainya. Menggenggamnya erat-erat... Hangat... Sangat hangat.

No comments:

Post a Comment