Saturday, September 29, 2012

Gerhana 1

"Satu minggu?!" aku terhenyak begitu mendengar dua kata itu.

Satu minggu, tujuh hari, tujuh puluh dua jam, empat tiga ratus ribu dua puluh menit, dua ratus lima puluh sembilan ribu dua ratus detik, terserah kau ingin menganggapnya berapa lama. Tapi satu minggu? Apabisa aku, sehelai rumput yang rentan bisa bertahan tanpa matahariku.

Aku tarik nafas dalam-dalam... Aku bisa. Aku bisa.

....

Kutarik ucapanku! Aku tak bisa. Bagaimana aku bisa bertahan saat angin menerpaku. Atau saat hujam menimpaku tanpa lelah. Aku sendiri. DI tengah padang rumput ini, aku sendiri.

Aku terkulai lemas di atas tanah. Sehelai rumput tanpa semangat dan teman... Begitu layu.

Dunia tak mengenal kasih sayang, dunia tak mengenal berhenti. Angin terus menerpa wajahku yang sayu. Selayaknya rumput, aku hanya bisa menari tertiup angin. Tak bisa berkata tidak...

"Yuri?" aku terhenyak.

Bimbang antara kenyataan atau mimpi, aku menoleh.

Kebekuan hariku mencair. Dia di sana... Dia ada di hadapanku. Senyuman itu... Raut wajah itu. Aku melambung, dan membiarkan diriku melambai tertiup angin. Akhirnya... Dia di sana. Hangat, ya, begitu hangat... Sebuah sabuk hitam terikat di pinggangnya.

Apa karena itu kau meninggalkan sehelai rumput sebatang kara? Yasudah, tak kupikirkan kembali. Karena aku tau... Gerhana telah berlalu.

No comments:

Post a Comment