Sebuah sosok menangkap pandanganku. Begitu lembut dan menggembung, begitu di benakku. Aku menatapnya dalam-dalam, dan perlahan tersenyum. Lucunya, siapapun bisa berfikiran sama denganku.
Aku terdiam, dia juga terdiam. Kepalanya mungilnya terjulur ke atas menatapku dalam-dalam. Ku tolehkan kepalaku ke kiri dan kanan, tak ada siapapun yang merawatnya...
Suaranya nyaring terdengar menggema di telingaku. Aku tersenyum gelik, dan mengayunkan pengisi perutnya. Dia meloncat kegirangan dan menyikat habis sebelum mahluk mungil lainnya melihat.
Sejak itu dia terus mengikutiku... Menemaniku di padang rumput yang begitu luas. Belayan tanganku mengelus kepala mungilnya. Begitu lembut... Dia baringkan tubuhnya di sisi kakiku. Kami berdua terlelap bersama. Menikmati waktu yang mengelus kami lembut, dan melelapkan kami tertidur begitu nyenyak di padang rumput.
Terlalu lama, sampai roda waktu menggilas kami. Kami merintih, tanpa sadar genggaman kami terpisah. Oh, tidak!
Terlalu lama, sampai roda waktu menggilas kami. Kami merintih, tanpa sadar genggaman kami terpisah. Oh, tidak!
Aku hanya bisa terduduk lemas di padang rumput luas seorang diri. Menatap angin yang terus membawanya pergi. Tapi tanpa kusadari, dia sama sekali tidak meninggalkanku. Benihnya mengisi penuh padang rumputku yang hampa. Aku tersenyum dan menahan tangisku, iya, dia adalah dandelionku.
sumber gambar : http://images.fineartamerica.com/images-medium/double-dandelion-dennis-vebert.jpg
sumber gambar : http://images.fineartamerica.com/images-medium/double-dandelion-dennis-vebert.jpg

No comments:
Post a Comment